Semut Merah

Namaku Mujahit, tapi tetanggaku sering memanggilku jahe. Bukan panggilan aneh lagi bagiku, karena sejak kecil tetangga adalah keluargaku. Aku tinggal di sebuah desa kecil dekat sungai, meskipun banyak orang kaya di desaku, tapi aku bukan salah satu dari mereka.

Aku adalah seorang anak lulusan SD yang seharusnya sudah menikmati masa SMP. Tapi aku tak seberuntung teman-teman mainku di desa ini, mereka tanpa beban, makan tinggal ambil, minum tinggal ambil, sedangkan aku, seorang anak yang sudah tak berayah dan beribu.

Aku sendiri tidak tau kapan aku ditinggalkan oleh mereka berdua, tubuhku yang kurus dengan selimut kulit coklat kehitaman ditumbuhku, sepertinya tidak akan ada orang yang mau menganggap aku sebagai anak.

Punggungku yang mulai membungkuk ini sudah biasa mengangkat beban berat. Semua itu aku lakukan untuk mendapatkan sesuap nasi dari sang mandor. Andai saja punggungku bisa bicara, mungkin dia akan berkata “Aku lelah jahe.” Saat ini aku tinggal di sebuah gubuk beratap rumbia dengan hiasan cahaya dari lubang-lubang kecil. Aku sendiri tak ingin berfikir seperti apa aku nantinya, satu hal yang selalu ku pegang sejak kecil. “Tuhan tahu apa yang kita mau.”

Berangkat dari pegangan itulah aku selalu yakin, meskipun aku tak mengenyam pendidikan lagi, tapi aku masih bisa belajar dari kehidupan yang indah titipan Tuhan ini. Senjanya yang mentari, selalu membawaku pada sebuah harapan. Bukan harapan menjadi orang kaya, tapi harapan bisa menjadi orang yang bahagia.

Hidup sepertiku bukanlah sebuah harapan bagi siapapun, tapi apalah dayaku, sejak ayah dan ibuku pergi meninggalkanku di rumah tua ini, aku hanya hidup sebatang kara. Tapi, meski dalam kondisi seperti ini sekalipun, masih banyak tetangga yang peduli padaku. Setiap pagi, aku masih sering diminta membantu mengangkat air di rumah tetangga, dengan imbalan sarapan pagi. Walau berat, aku tetap senang melakukan ini.

Hingga….

Ketika aku ingin mencari pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat kue. Sore menjelang senja hilang, aku membaca selebaran yang tergeletak di jalan dengan sedikit bekas pijakan kaki.

Aku mengambilnya dan membawanya ke rumah, harapku ada yang bisa merubah nasibku kedepannya.

Saat sampai di rumah, aku berbaring di kasur yang beralaskan karpet tipis di atas susunan kayu-kayu tua.

Buatku ini sudah biasa. Satu per satu aku baca iklan yang sudah bekas pijakan itu. Di kertas itu tertulis “Dibutuhakan kuli angkut kue tanpa ijazah. Melihat seperti itu, aku langsung lompat dan menyiapkan baju yang sedikit rapi untuk melamar pekerjaan tersebut besok.

—o0o—

Pagi sekali, aku sudah terjaga.

Tidurku sungguh nyenyak. Mungkin ini pengaruh kegembiraan akan dapat pekerjaan baru, tapi aku taklah begitu berharap, karena semuanya ku serahkan kepada Tuhan. Berhubung lokasi rumahku ke tempat perusahaan kurang lebih 20 menit, jadi aku berangkat lebih awal.

Saat di jalan, aku melihat angkot sedang mencari penumpang, akupun lari-lari kecil mengejarnya. “Mas, bisa anter ke Jl. Kenanga deket Perusahaan Kue itu mas.”

“Bisa. Naiklah.” Jawab abang supir seperti heran dengan menatapku tajam seakan aku seorang penjahat. Akupun melanjutkan dengan naik ke angkot dan disuguhi alunan radio yang sungguh memekakkan telingaku. Lima menit menunggu, mas angkotnya belum juga berangkat. Aku bertanya “Mas, masih lama ya?”

“Udahlah, duduk aja, bentar lagi berangkat.” Jawab supir itu untuk kedua kalinya dengan tampang marah dan menatap Aku sendiri tak mengerti apa maksud supir itu, tiba-tiba angkot berjalan. Saat itu, ada 2 orang anak SMP berseragam rapi dengan alur setrika yang mengkilap. Tampak mereka siswa dan siswi baru. Wajahnyapun masih campur lugu bawaan dari SD. Anak SMP yang satu itu perempuan dan yang satu adalah laki-laki. Aku masih tak merasa salah, tapi kedua anak SMP itu juga menatapku tak karuan, seperti antara takut dan ingin pergi.

Lima belas menit berlalu, tinggal aku sendiri di angkot itu, kedua anak SMP tadi sudah turun di SMP-nya disambut dengan teman-temannya. Aku hanya bisa mengusap tetasan air yang tak sengaja menetes dari mataku. Sekali lagi, aku hanya bisa berharap, bukan mewujudkan.

Saat sampai di depan perusahaan itu, aku masih tak bisa menata dengan benar keyakinanku, melihat megahnya bangunan perusahaan ini, tapi aku berucap “Bissmillah.”

Aku menuju ke gerbang besar dengan puluhan susunan besi itu. Aku melihat seorang bapak bertubuh besar dengan seragam security menatapku. Akupun bertanya padanya “Pak, maaf sebelumnya, mau tanya, benar di sini ada lowongan?”

“Lowongan apa?”

“Lowongan kerja pak.” Ucapku sambil menunjukkan selebaran yang masih ada bekas pijakan kaki itu.

“Ooo, ini ya. Dibagian gudang dek, sini saya tunjukkan.”

“Alhamdulillah, terima kasih ya pak.” Wajahnya tak seseram hatinya. Aku mengikuti bapak itu yang menunjukkan arah tempat dimana aku bisa kerja.

Sambil berjalan, bapak itu mengajakku mengobrol “Nak, kamu sudah tidak sekolah, ya?”

“Tidak pak, aku sudah tak punya biaya. Jangankan biaya, makanpun aku tak tau kapan bisa merasakan untuk hari ini.”

“Bapak prihatin melihat kamu. Yang semangat ya, nanti bapak bantu kamu supaya dapat pekerjaan.”

“Sungguh pak.” Akupun mencium tangan bapak itu dan melanjutkan “Terima kasih pak.”

Bapak itu mengangkat kedua sudut bibirnya dan memberi senyum diiringi kata “Iya nak.”

Setelah sampai, bapak security itu menuju ke sebuah tempat dengan susunan meja, sepertinya itu tempat pendaftaran, tapi berhubung bapak itu memintaku menunggu sebentar, akupun mematuhinya.

Terlihat dari jauh bapak itu sedang berbincang dengan seorang lelaki berkumis tebal dan berwajah sangar. Sebagai anak kecil, aku sungguh takut melihatnya.

Kemudian saat aku duduk di bawah pohon bonsai kecil, bapak itu menghampiriku dan memintaku untuk ketempat di mana ia tadi berbincang, kemudian bapak itu pamit “Nak, bapak kerja lagi ya.”

“Owh.. iya pak, terimakasih banyak.”

“Sama-sama.”

“Pak.. Maaf tak bisa membalas budi bapak.”

“Lho… Kenapa bicara seperti itu, sebagai manusia kita harus saling membantu, kamu lihat semut itu.” Bapak itu memintaku melihat semut berwarna merah gagah yang sedang mengikuti rombongan lainnya.

“Iya pak, mengapa dengan semut itu.”

“Semut itu sama seperti kita, sejujurnya di antara mereka tidak ada yang mengenal, tapi karena sesama jenis, mereka tetap membantu.”

“Iya pak, dunia ini memang tempat kita belajar.”

“Ya sudah, bapak kerja dulu ya.”

“Iya pak.” Aku memegang tangan bapak itu dan menciumnya untuk kedua kalinya. Mataku meneteskan air mata lagi, sepertinya sungguh benar aku merindukan sosok Ayah dalam hidupku.

Akupun menyapu air mata ini dengan bajuku yang menggulung. Saat sampai, aku menemui bapak yang sedang bicara dengan para pendaftar yang lain. Tak lama aku sampai di barisan itu, aku dipanggil

“Hei kau, ke sini.”

“Saya pak?” Tanyaku memperjelas.

“Iyalah, siapa lagi, ke sini kau!”

“Iya pak, kenapa?”

“Kau masih kecil mau jadi kuli pulak. Tak sekolah kau?”

“Jangankan sekolah pak, uang makan saya sudah saya pake buat ongkos ke sini pak. Entahlah bagaimana saya bisa pulang dan makan nanti.”

“Kacau kali hidup kau. Ya sudah, kau ku terima disini.”

“Sungguh ini pak?” Tanyaku menjelaskan pernyataan bapak berkumis tebal itu.

“Iya, kenapa pula aku mau tipu kau.”

Aku bersujud syukur di hadapan puluhan orang yang mengantri di belakangku. Tuhan mengabulkan do’aku.

Terimakasih Tuhan, engkau beri aku kesulitan untuk kebahagiaan kecil ini.

Akupun bergegas mencium tangan bapak berkumis itu dan mengucapkan terima kasih. Saat itu juga, bapak itu meminta aku tinggal di kantor dan menjaga kantor setiap malam. Saat itu juga aku langsung diminta membantu karyawan lainnya mengangkat barang-barang yang mau dibawa.

Tanpa berkata apapun, aku menuju tumpukan tepung dan mengangkatnya dengan punggung kecilku.

—o0o—

Satu bulan sejak aku diterima kerja. Sejujurnya aku sendiri masih bingung dengan keadaan ini, apakah ini sebuah ujian atau berkah. Sebagai manusia yang bertuhan, aku tetap terus bersyukur. Sekarang memang hidupku sedikit lebih baik dari satu bulan yang lalu, aku sudah bisa tinggal di rumah yang lebih layak dari rumahku dulu. Rumah ini kudapatkan ketika Direktur Perusahaan tau aku ini masih kecil dan tak berayah dan beribu.

Makankupun mulai perlahan tertata. Hidupkupun mulai tersusun dengan baik. Aku jadi ingat ketika aku mengunjungi rumah lamaku yang tak pernah ku rawat lagi. Saat sampai di sana, aku berkunjung ke tempat tetangga yang pernah membantuku, mereka semua meneteskan air mata melihatku yang sedikit rapi dan bersih. Akupun ikut larut dalam suasana sedih itu.

Memang aku masih belum bisa membalas semua budi mereka kepadaku sejak kecil, tapi aku berdo’a semoga Tuhan semakin memberi kemudahan rezeki kepadaku, sehingga aku bisa berbagi kepada mereka.

Aku juga ingat dengan semut merah yang ada di pohon bonsai tempat aku berteduh saat ingin melamar kerja dulu. Meskipun semut merah itu tak pernah bertemu sebelumnya, tetapi saat bertemu dengan sesama semut merah, otomatis semut itu akan mendekat dan melakukan apapun yang bisa dibantu. Sama seperti manusia, tak jarang orang yang tidak mau menghargai orang lain akan menjatuhkan dirinya. Justru sebaliknya, ketika kita membantu orang lain, maka kebaikan itu akan hadir tanpa kita duga. Seperti bapak security itu, karena menolongku dengan ikhlas, sekarang bapak itu menjadi ketua pimpinan dari security. Membantu itu tidak selamanya tentang uang.

“Tuhan selalu memberi kita sesuatu hal di alam ini untuk kita pelajari —heru arya

9 thoughts on “Semut Merah

  1. Wah cerpennya bagus nih, padahal katanya baru belajar bikin cerpen hahaha. Sebagai manusia memang sepatutnya banyak-banyak bersyukur, karena selalu ada berkah yg diberikan Tuhan pada kita. Filosofinya tentang semut juga bagus nih. Banyakin bikin cerpen kayak gini dong.

  2. Quotes terakhir ngena banget. Semuanya ada memang untuk membuat manusia belajar akan sesuatu. Belajar bersyukur. Beruntungnya anak itu bertemu dengan pak Security yang baik hati. Sekarang jarang banget orang baru kenal yang bisa sebaik itu ^_^

  3. Wuiihh….cerpennya bagus kak, aku sampai terbawa suasana….hehe

    Intinya sesama manusia itu harus saling membantu, seperti semut. Karena dengan membantu org, org lain akan ingat dengan kebaikan kita. Kita bakal direspect sebagai org yg baik.

  4. Layaknya semut, membantu sesama untuk mengangkut makanan yang didapat semut lain. Walaupun banyak ancaman dari berbagai makhluk termasuk manusia yang bisa kapan saja membuat nyawa si semut melayang, demi membantu seseorang agar bisa makan, dia tidak peduli dengan berbagai ancaman yang menghadang.

    Aku belum terlalu mahir juga dalam membuat cerpen, jadi belum banyak saran yang bisa aku kasih, Untuk alur sudah cukup bagus menurutku, cuma untuk bagian partikel ‘ku’ sepertinya dalam satu kalimat ada beberapa yang mubazir.

  5. Keren tulisannya. Alam semesta ini memang bagaikan sebuah buku. Banyak cerita di segala sudutnya. Kalo kita memperhatikan alam di sekitar kita, memang kita bakal dapet banyak inspirasi dan juga pelajaran tentang hidup =)

  6. Hai, Mas Heru apa kabar ?
    Hari-hari sebelumnya seperti biasa keliling di tulisanwortel ini. Tapi ini tulisan yang baru ya. Aku sendiri baru membacanya.

    Meskipun katanya mas Heru baru belajar, tapi aku rasa tulisannya sudah enak dibaca. Aku membacanya sampai tidak ada satu kata pun yang terlewat…hehe

    Baca tulisan ini selepas istirahat, pukul 03.00. Sepi jadi lebih bisa fokus. Ceritanya ngena banget mas, sebagai manusia memang seharusnya pandai bersyukur, dalam keadaan apapun itu. Dan satu lagi, membantu, seperti apa yang diceritakan di tulisan ini. Asalkan niatnya ikhlals, in shaa Allah bakal berbalik kepada kita.

    Semoga kita semua dicukupkan segalanya oleh Allah…aamiin..

  7. Syukurlah kalau ternyata masih ada orang baik didunia ini, walau hanya dalam cerita. Tapi sepertinya masih ada orang-orang seperti itu di dunia nyata ini, walau jumlahnya hanya sepersekian dari 237 juta rakyat Indonesia. Daripada kita terus mencari orang yang ‘sepersekian’ itu, kenapa kita tidak menjadi yang salah satunya?

    Keren banget ceritanya, ru. Bayangkan aja ada anak yang berkeadaan seperti itu hidup di dunia fana ini, mungkin kita hanya bisa menjumpai batu nisannya saja.

    Realita sekarang ini memang memiriskan hati. Orang-orang, para pejabat berteriak-teriak dan bersuara untuk memberantas kemiskinan. Tapi mereka tidak sadar bahwa realisasi kalimatnya dimulai ketika membantu orang yang tidak dikenal.
    Seperti semut, mereka tidak punya mata. Mereka kecil, lemah. Diinjak kaki manusia, mereka tewas. Direndam air hujan mereka panik.

    Tapi yang membuat mereka spesial itu kerjasama mereka. Mereka kalau ketemu, saling berpapasan walau tidak kenal. Dan itu pula sering dijadikan bahan motivasi untuk manusia.

    Intinya keren banget, bro.

    Btw, si pencari tenaga kerja itu marga Batak ya? Pengen kenalan aku sama dia.

  8. Cerita sederhana, tapi penuh makna. Dari cerita ini, gue bisa merasakan bagaimana menjadi manusia yang kurang beruntung dari segi finansial dan keutuhan keluarga. Oleh karena itu, selain kita harus bisa saling membantu makhluk hidup lainnya, kita juga harus bisa bersyukur dengan hal-hal yang ternyata orang lain gak punya.

  9. sekarang lagi melebarkan sayap di dunia percerpenan ya Her. Bagus, lnjutkan!
    Kalau menurut gue cerita lo ini simple tapi bagus karena ada life-lesson di dalamnya..cuman masih menurut gue nih, di awal itu intronya kayak bukan bhaasa cerpen tapi bahasa informasi, gimana ya…kayak terlalu banyak ngasih informasi secara lngsung begitu tentang si penulis Jahe ini.
    Dan di beberapa percakapan, ada beberapa bahasa yang terlalu baku atau terlalu pujangga misal serupa ini,
    “Tidak pak, aku sudah tak punya biaya. Jangankan biaya, makanpun aku tak tau kapan bisa merasakan untuk hari ini.”
    tapi itu menurut gue sih, karena cerpen itu kan subjektif ya..tapi yang pasti this is a good try for you. Dan liat postingan ini gue jadi pingin bikn cerpen juga 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *