Satu Hari Yang Berharga

Sejarah ini tidak seperti saat Steve Jobs menemukan Apple atau mungkin ketika Bob Sadino sukses dengan celana pendek di atas lututnya. Ini ceritaku, telah lama, tersimpan, tergeletak, dan tak berpemilik.

Hari ini, tepat hari Selasa 23 Desember 2014 adalah waktu di mana aku menempatkan diriku pertama kali dalam sebuah kondisi yang saat aku pertama kali mendaftar kuliah dulu, hanya seperti angin lalu. Tidak terlalu aku pikirkan akan jadi seperti apa aku nanti.

Sebuah perjalanan panjang selama 3,5 tahun yang lalu. Aku sungguh ingin menghela nafas panjang setelah melewati ini. Hari ini menjadi sebuah penghargaan atau semacam reword dalam diriku. Aku sendiri tidak tau harus mulai dari mana.

Semuanya berjalan, senada, mengalir dan membuatku takjub dengan diriku sendiri.

Aku masih ingat perjuangan Tahun 2011 yang lalu. Masih baru tamat SMA, belum jelas kapan akan kuliah dan belum jelas di mana aku harus berpijak untuk waktu yang lama mendapatkan gelar.

—o0o–

Pagi-pagi sekali, kakakku dan Fio ponakanku yang baru datang hari minggu yang lalu, bangun lebih awal dariku.

Harapku malamnya, supaya aku lebih dulu terjaga, namun apalah daya, tubuh tak berpihak kala itu.

Mata terkedip-kedip melihat sang surya melebarkan cahayanya. Tampa samar-samar, kakakku sedang merapikan
beberapa barangku yang memang sebelumnya sedikit berantakan.

Tangan kananku mengusap mataku perlahan, setelah jelas. Aku pun melanjutkan ke kamar mandi untuk gosok gigi.
Setelah selesai, sepertinya aku memang benar-benar tak mau luput dari pandangan bantal yang merasukiku untuk terbaring lagi dengan waktu yang lama.

“Kak, Heru baring sebentar, ya!”

“Iya.” Jawab kakakku tanpa protes

Aku melanjutkan membaringkan badanku dan merebahkan seluruh tubuhku. Mataku menatap langit-langit kamar.
Tampak polos, putih, dan bersih. Kala itu, aku sedikit bergumam dalam hatiku “Putih. Mengapa hatiku sudah tak seputih itu lagi. Semakin lama aku hidup, semakin hilang warna putih itu.”

Sudahlah, aku tak ingin memikirkan masa suramku dulu. Aku harus menjadi siapa diriku saat ini. Biarlah nanti orang lain yang menilaiku, yang terpenting aku adalah diriku.

Telepon genggamku sudah tak menyala lagi, karena kehujanan tadi malam. Lampu layar dan tombolnya mati total. Hanya seperti hidup dalam kegelapan. Tak harap lebih, aku mempunyainya saja sudah senang, tapi jika telepon genggam ini, rusak. Artinya, aku tak punya cara lain lagi untuk berkomunikasi dengan orang tuaku.

Tidak terasa, sepertinya belum lama badan ini terbaring, waktu di laptopku menunjukkan jam 09.00. Mataku masih benar-benar lelah karena semalaman aku memikirkan seminar proposalku. Satu hal yang aku bayangkan adalah: seperti apa, aku nanti?.

Mulut ini rasanya seperti berlumut oleh penundaan, sudah banyak cara yang aku lakukan untuk mencapai titik ini.

Namun, hari ini, aku harus benar-benar dibuat pusing tujuh keliling berdebar tak berujung, karena ini adalah kali pertama aku di hadapkan oleh dua orang penguji dan 2 orang pembimbing.

Seketika aku merasa lelah sekali jika membayangkan 4 bulan yang lalu. Ganti judul disaat aku harus Kuliah Kerja
Nyata, lebih lagi harus ditunda seminarnya hampir 1 bulan dan meskipun pada akhirnya semuanya aku dapatkan.

Aku langsung beanjak pergi ke kampus, untuk segera mempersiapkan semuanya, supaya aku bisa membuat yang hadir di seminarku nanti, merasa nyaman.

Aku, kakakku dan Fio menaiki motor using itu ke kampus. Harap-harap, semuanya akan berjalan lancar. Sembari
mengendara, aku mengenalkan satu per satu nama fakultas ke kakakku.

15 Menit Kemudian…

Aku pun tiba di depan Fakultas dengan semangat yang menggebu-gebu. Seperti api yang ditambahkan kayu, membakar, berkoar dan ingin segera mengakhiri.

Belum habis lima menit aku turun dari motor, masuk SMS di telepon genggamku :
“Heru, maaf sebelumnya, seminar kamu bukan jam 10.00 tapi dipindah ke jam 13.00.” Seketika aku diam dan tak berkata apa pun. Kakakku yang melihat ekspresiku yang berubah bertanya dengan nada lirih “Kenapa ru?”

Aku masih diam, masih terjamah jelas ucapku saat 1 minggu yang lalu : Jika seminarku ditunda lagi, mungkin TUHAN tau, di mana aku harus berfikir dibandingkan aku harus menyalahkan keadaan.

Meskipun dihari yang sama, aku tetap merasa kecewa untuk kesekiankalinya. Memang bagi yang belum merasakan, ini bukanlah hal yang berharga. Namun, bagiku, ini adalah jiwa membakar lara.

Tanpa berfikir untuk masuk ke gedung atau sekedar mengajak kakakku untuk melihat-lihat, aku memutuskan untuk pulang kembali ke kostan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *