Resah

Sajak Kehidupan – Kali ini, aku menitik beratkan waktu dan logika yang pernah kutulis di kertas putih bersampul usang itu. Tak satupun orang yang tau. Kecuali aku.

Meskipun, kadang aku bertanya pada diriku : “Siapakan orang pertama yang akan membaca tulisan di kertas ini?”

Ah, itu hanya angan saja, aku bukan lelaki dengan tumpukan harta yang tak terpakai. Aku juga bukan lelaki dengan tampang yang pantas untuk membuat wanita berkata : “Aku ingin memilikinya.”

Terkadang, angan yang terlalu panjang, membuat sebagian neuron otakku seperti kapas dalam air, mudah untuk dilihat, sulit untuk dirasa.

Meski langit tak lagi mendung. Tapi pikirku masih dalam banyak pertanyaan yang merasuki bagian dari hal yang
sulit aku jamah. Kadang, ketika aku melewati jalanan dengan riuhnya kesibukan kota, ada saja wanita yang mengusik pandanganku. Iya, ia hanya mengusik pandangku dan aku lelah akan itu.

Tapi tetap, aku masih seperti hujan tanpa pelangi. Hanya memberi luka, tapi tidak menyelipkan keindahan.

–o0o–

Aku memang bosan dan sangat bosan berada di antara kipas angin yang menusuk tulang dan pancaran layar 14 inc ini. Aku seperti kelelawar. Pagi hingga sore berada di kamar dengan sejuta kesibukan yang tak kunjung berakhir.

Kala waktu gelap dan langit hitam menderu untuk berkumpul dan menutup sore dengan pijar senja di ujung pandang.

Kala itulah, aku baru memiliki waktu panjang untuk melihat kemerlip bulan dan lampu dari kendaraan kota yang sibuk ini.

Seketika aku sering merasa resah seperti anjing tanpa rumah. Kepala seperti terbakar, nafas seperti pelari tanpa
kaki, aku pincang dengan sirnanya waktu yang membelenggu ini.

Tuhan. Cara apa lagi yang engkau siapkan untuk orang sepertiku ini.

Udara, senja, bias bulan, masih menjadi hal yang spesial dalam hidupku saat ini. Meski aku tak jarang melihat
Fajar, tapi aku tau. Bulan malam lebih mengerti tentangku.

Resah, masih menjadi kata yang menggerogoti waktuku untuk hidup seperti manusia pada umumnya.

Melempar canda, membunuh sepi, dan penikmat kopi dalam waktu yang lengah.

Aku tak bisa.

Aku juga tak mengerti.

Mengapa aku menjadi bagian dari keresahan yang tak pernah datang sebelumnya.

Mengapa aku menjadi batu dalam air yang keruh. Aku tak tau kapan akan terlihat, tapi aku hanya bisa berharap,
air akan jernih ketika kering dan hujan datang.

Tuhan. Keresahan inikah yang engkau maksud dari kertas yang aku tuliskan itu.

Entahlah, mungkin sampai kapanpun, kertas ini tak akan terbaca selain aku dan Tuhan.

Entahlah, siapa orang yang mau membaca kalimat yang tak penting ini.

Aku hanya bisa meresahkan waktu yang terus membuat kerutan di wajahku. Aku hanya bisa meresahkan rasa lelah yang hadir tanpa pamrih.

Itulah aku, dalam kertas ini. Aku hanya menuliskan: “Maaf, ketika waktuku tak lagi panjang. Maka, jadilah pendamping dalam keresahan ini.”

Pekanbaru, 4 Maret 2015

16 thoughts on “Resah

  1. nnnggg

    Aku ga yakin sih bisa mencerna kisah ini.
    Sudah ku coba memahaminya tapi tetap gagal paham.
    sepertinya catatan ini memang benar-benar dibuat dari hati.
    Permasalahan hati memang rumit 🙁

    tapi kesimpulan yang bisa aku ambil kayaknya pange lagi galau berat . Pange butuh liburan ! jangan di kamar terus 🙂

    1. Jangan terlalu dipaksain bg. Kalo emang gak ngerti, nikmati saja alunannya. 🙂

      Yoi… Kalo udah bahas hati, emang semuanya kelam gitu rasanya… 😀

      Siap bg… Ini juga lagi liburan. Di depan laptop

      1. Biasanya aku kalo resah cukup baca quran aja gitu.
        Tiba-tiba hati berasa tenang lagi.
        Aku Bukanya mau Ujub loh tapi emang beneran gini kenyataanya..
        Coba deh manteman kalo ga percaya 🙂

  2. wuiihhh…….tulisannya bagus banget, enak dihati, tapi kok aku malah gagal paham iya….hehe

    tapi klo dari paragraf terakhir pangeran lagi buat catatan hati dan tidak ada yang baca selain kk sendiri iya??? kan blog ini catatan kakak dan banyak yg baca…..hehe

    aku baru tau klo pange punya 2 blog

  3. Jujur gue sendiri gak tau harus nulis apa di komen ini. Takutnya pemahaman gue terkait tulisan ini malah gak sesuai. Jadi gue mah cuma bisa bilang, semoga resahnya cepat berlalu. Karena resah lama-lama juga gak enak.

    Jangan lupa bahagia ya pangeran wortel 🙂

  4. tulisan yang sudah ditulis tahun 2015 lalu ya mas, sepertinya tulisan ini menceritakan tentang seseorang yang belum dianggap oleh seseorang wanita ya mas, hehehe

    ya keresahan itu memang bagian dari manusia yang masih punya perasaan mas. aku sendiri terkadang juga merasa resah.

  5. lo kan punya pacar ru masih ajah resah kek cewek lagi mens lupa pakek pembalut ajah hehehe

    gue belum mengerti sastra dengan baik, untuk itu gue belum menemukan maksud dari ungkapan keresahan hati lo ru, cuman poinnya mungkin lo lagi resah ajah pengen nulis di kertas takut gak ada yang baca. haha

    ini blog baru, wordpress dan sub-domain dari tulisan wortel . tamplate mantap.. :))

  6. Pange, jadi puitis banget nih sekarang? Mantaps.

    Aku orangnya bodoh banget soal kata-kata puitis gini, suka ga ngertian, makanya aku bingung ini. Tapi ya dari yang aku rasa aja, kayanya gundah gimana gitu. 🙁

  7. Kertas? Kertas apakah itu yg membuat pangeran sedemikian resah?
    Apakah itu kertas berisi sebuah lamaran untuk wanita tercinta? Atau lamaran kepada pekerjaan yang sangan diimpikan?
    Ah… Hanya pangeran, si kertas, dan Tuhan yang tau.

  8. Kertas apakah yang membuat dirimu sedemikian resah seperti itu haha… jadi penasaran. Pindahkan saja isi dari kertas itu di blog ini biar banyak yang membacanya jadi gak perlu resah lagi.

  9. Diksinya enak banget. Bacanya juga ngga sesek. Alunannya pas untuk ukuran sajak.

    Baru lagi mampir kesini udah banyak perubahan. Kangen Tulisan Wortel yang dulu. Yang isinya kadang curcol pribadi. Tapi gapapa, semua bermetamorfosa. Mudah-mudahan akan ada lagi curcol disini~

  10. Ini ke keempat kalinya baca tulisan pange yang galau, tapi aku g bakal gregetan karena kurang lebihnya tulisan Resah ini sebagian besar menggambarkan apa yang aku rasakan sekarang. (Semoga aku g salah menilai atas apa yang pange tuliskan tentang Resah)

    Tapi bedanya aku bukan resah dengan keadaan semacam cinta, aku resah karena kemampuanku sedang diuji, dipercaya melakukan sesuatu yang besar, sampai-sampai aku resah karena g yakin bisa memanggu tanggungjawab ini. Tapi mau berkeluh kesah pun, kayaknya g bakal guna, karena siap g siap, ini harus aku lakukan dan laksanakan.

  11. gue kayaknya masih belom paham sih smaa tulisannya. ah, kyaknya emang guenya aja sih yg ga paham sama tulisan” yg kyak gini.
    tiap orang kyaknya akan sampai ke titik resah seperti itu. yg harus dilakukan ya dengan mengetahui cara untuk membuat diri sendiri bahagia. jgan resah terlalu lama.

    gila.
    ini komenan gue nyambung sama tulisannya ga sih, nge? gue ga tau nih. heheheh

  12. HAI PANGE!!

    Aku tau solusi dari segala kegalauan dan keresahan akan banyak hal yang sedang menikam bertalu talu di relung hatimu dan menjadi siksa di tiap tiap pagi, siang, petang dan malammu.

    Kau katakan pada gadis yang sosoknya sering mengusikmu, kau katakan padanya dan kau tanyalah,
    “Mari kita berjalan bersama, bergandengan tangan dan saling menepis segala kebosanan dan keperihan yang menjalar tak usai usai. dan kita akan merajut cerita baru yang tak ada kata ‘jenuh’ di dalamnya. Gadisku, ayo kita MENIKAH.”

    Wowwwwwwwww gue keren banget sih. Suami gue dulu juga begitu pola ngajakinnya. Langsung to the point 😀

  13. Dan… gue gak begitu paham mengartikan tulisan indah ini. Maaf pange. 😀

    Intinya secarik kertas yg bikin resah dan galau. Itu ditulis tahun 2015. Masih resah dan galau kah sampe hari ini? 😁

    Dan gue setuju sama pendapat Kak Meyke. Solusi dari keresahan dan kegalauan itu menikah. Wkwkwk.. ya walaupun gue belum menikah sih. Hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *