Kenapa Kamu berubah?

Kenapa kamu berubah? – Aku duduk bersila di atas lesehan sebuah kafe yang biasa aku jadikan tempat mengotak-atik inspirasi menjadi sebuah tulisan.

Kali ini, aku tidak sendiri. Aku ditemani bunga penghias hari-hariku (baca : kekasih).

Suasana belum begitu cair, dia masih sibuk dengan gadget barunya. Sedangkan aku, mencoba sibuk dengan laptop.

Meskipun, pada kenyataan, aku ngeklik menu, terus back, menu, back. Gitu aja, terus.

“Hai, kenapa kamu berubah?” Bunga penghias menanyakan itu dengan mata sedikit ragu. Bibirnya seperti bergetar.

Iya, ia hampir menghujani wajah yang selalu membuat aku rindu.

Aku berusaha menjelaskan : Aku bukan berubah. Jujur, aku seperti ini bukan ingin tampak seperti bulan dalam gelapnya malam. Bukan, aku masih tetap ingin menjadi Matahari penghias semangat hari-harimu.

Aku juga sadar. Mungkin, selama beberapa bulan yang lalu. Aku jarang memberi kabar padamu. Jangankan telepon, SMS saja, rasanya berat buatku.

Aku di sini tertatih. Melawan waktu dalam kenyataan yang tak pernah aku harapkan. Malah, kadang aku justru
sering mengeluh. Bukan. Bukan aku patah semangat.

Tapi. Aku takut, bahagiamu bukan bersamaku.

Satu bulan yang lalu. Aku dihadapkan dengan dunia yang awalnya tak aku harap ia datang. Tapi benar, aku
tak berharap. Hingga ia datang dengan luwesnya membuat aku berdecak kagum dan tanpa ucap.

Aku bukan berubah. Ada banyak dan bahkan tak terhitung langkahku yang tak pernah aku ceritakan padamu. Aku tak ingin kamu jadi berpikir aku lelaki yang bukan pantas untuk menjadi penghias harimu.

Mengucap “Selamat pagi sayang.”

Aku takut kata itu, tak pantas aku berikan padamu.

Aku bukan berubah.

Aku masih seperti yang kamu harapkan.

Kadang, dikala aku sedang dijejerkan dengan masalah, aku jutru mengingatmu. Ingin rasanya aku bertanya
kabarmu, kegiatanmu, dan satu lagi. Sayangmu padaku.

Ah, aku terlalu banyak beralasan.

Mungkin pantas bukan artinya aku bisa semauku membahu ucapku dalam rentetan keputusan yang dulu aku pernah buat.

Tapi, kamu perlu tau. Aku memang tak sempat mengabari kabarku kepadamu (aku khawatir).

Aku juga jarang bertanya apa kegiatanmu sekarang, nanti, dan besok (aku takut).

Aku juga jarang sekali berucap kata “sayang” seperti sebagaimana orang berhubungan lainnya (tapi sayangku
tulus).

Andai hujan membasahiku kala ini, mungkin ucap dan tangis ini akan beriring menjelma. Sayangnya, aku tak sedang dalam badai.

–o0o–

“Kenapa kamu berubah?”

Aku bukan berubah. Aku sempat kalah dengan keadaan. Selalu dan selalu. Ketika aku sudah mengetikkan ratusan karakter untuk menyapamu. Pulsaku habis. Aku kalah lagi. HPku tak secanggih dulu. HP-ku sekarang berlayar puluhan garis putih akibat kekesalanku padanya.

Maaf, aku selalu kalah dengan keadaan. Lagi. Mungkin, buat orang lain ini mudah. Tapi tidak buatku.

Kadang, aku juga berusaha meneleponmu. Tapi apa. Aku sedang dalam kecewa. Aku tak mau suaraku mudah kamu tebak seperti sebelum-sebelumnya.

Aku juga ingin seperti layaknya orang lain berpacaran. Menghibungimu via Video Call. Tapi apa, aku tak punya
alat secanggih itu. Semua hal, sudah aku habiskan untuk selembar gelar di ujung jalanku nanti.

Iya. Aku berubah.

Aku berubah membuat diriku selalu kalah dengan keadaan. Aku mencari receh demi receh. Bukan. Bukan untuk
membuatku senang. Tapi ini untukmu.

Aku berubah karena aku ingin kamu bahagia ketika bertemu denganku. Tak lagi melihat wajahku yang mengkerutkan kening. Aku ingin membuatmu bahagia. Sayang.

“Kenapa kamu berubah?” Bunga penghiasku bertanya untuk ketigakalinya sembari menghujani wajahnya dengan air mata.

Iya. Aku sekarang berubah.

Tapi aku sadar, berubahnya aku tidak membuat dunia tau, bahwa rasaku pernah berubah terhadapmu. Iya, aku sempat diberikan bunga lain. Aku salah, aku bodoh, dan kini aku berubah.

Tapi, ingatlah aku berubah untuk membuatmu bahagia. Iya, aku karenamu bukan apa-apa. Aku tanpamu seperti kemboja dalam gurun. Sendiri dan akan mati.

Aku tanpamu seperti tegasnya senja yang aku usung-usung dalam cerita kita. Iya, kali ini aku mau bilang kita
pantas untuk ada dan satu.

Aku tak ingin kamu mengucapkannya lagi. Aku pantas kamu marah atau apapun itu. Hanya saja, satu hal yang perlu kamu tau, bahwa rasaku tak pernah berubah dari dulu bahkan hingga kita saling menatap saat ini.

Terimakasih bunga penghiasku.

Pekanbaru, 2 April 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *