Kenapa harus ada tahun 2018 ?

tahun 2018

Berat banget mau mulai tulisan kali ini. Mungkin akan jadi awal yang begitu panjang. Atau mungkin, cerita ini tak berujung. Yasudahlah, semoga kalian yang membaca tulisan ini gak merasa jenuh.

Aku akan mulai cerita ini dari Hari bertambahnya usiaku di bulan Januari 2018 yang lalu. Dia, yang sekarang sudah menjadi istriku memberiku sebuah pertanyaan yang cukup membuat ada jeda pikir otakku yang lamban dan tak berakhir jawab.

“Kak. Kira-kira tahun ini kita jadi Nikah atau tidak?”

Pertanyaannya gak sulit dicerna. Tapi, sulit dijawab. Apalagi, pertanyaan itu dia ucapkan ketika kami sedang bertemu.

Ekspresiku yang awalnya cerah mendadak mendung. Karena, aku sendiri belum bisa membuat keputusan sedikitpun.

Persoalan terbesarnya bukan karena aku takut. Hanya saja ini soal MENIKAH. Bukan beli gorengan yang bisa kapan aja mau tinggal berangkat.

Masih dalam suasana hening. Aku juga belum berani menatap dia langsung. Lidahku semakin lama menjadi kelu.

Dia bertanya lagi “Mau jawab atau aku pulang?”

“JAWAB” Kataku sontak karena kaget dan takut ia justru pergi dalam keadaan marah

“Oke! Aku akan kasi jawaban ketika usiamu bertambah nanti. Janji…” Lanjutku

Dia terlihat tak begitu tertarik dengan jawabanku tadi dan pergi begitu saja.

–o0o–

“Selamat ulang tahun Adek. Semoga semuanya semakin jadi terbaik di tahun ini.” Pesan singkat inipun kukirim ke dia sebelum jam 08.00 pagi.

Tapi, masih saja belum ada balasan sampai siang. Mungkin dia masih marah.

Aku begitu saja melupakan pesan singkat itu supaya tidak terlalu menjadi beban pikirku. Sorenya, dia akhirnya membalas pesan singkatku : “Gimana? Udah ada jawabannya?”

Aku hanya membaca dan menatap layar dan diam. Meskipun berat, tapi ini udah aku siapkan sejak awal tahun 2017 yang lalu. Ya, akupun menjawab “Aku siap menikahimu di Tanggal 14 April nanti. Sampai jumpa di hari bahagia ini, ya.”

Mungkin karena mendapat jawaban seperti itu, chat yang biasanya lama banget dibales. Langsung diread dan dia sudah Sedang Mengetik… sejak pesan itu dibaca.

Ia melanjutkan “Terimakasih kakak. Adek seneng banget, akhirnya kita bisa bareng terus. Adek tunggu di KUA, ya…”

April 2018

Hari yang ditentukan datang. Aku terus meyakinkan hati dan berdoa kepada ALLAH supaya semua urusanku hari ini dimudahkan.

“Heru…” Tanganku sedang berjabat dengan Ayahnya

“Iya Saya…” Jawabku gemetar

“Aku nikahkan engkau dengan anak kandungku (nama istriku) dengan mas kawin sebentuk cincin emas, tunai………..”

Aku menarik napas cukup lengang “Aku terima nikah (nama istriku) dengan mas kawin sebentuk cincin emas, tunai…….”

Proses menikah ini, diulang 2x. Karena, Ayahnya dia sedikit kesulitan menyebut nama Asliku. Tak apalah, biar ada pengalaman diulang (dan ini aslinya bikin jantungku tambah gemetar…)

Semua saksi menyatakan SAH. Ditutup dengan doa dan istirku langsung mencium tanganku sampai akhirnya menyelesaikan beberapa tanda tangan di buku nikah.

“YES! Aku udah menikah dan punya istri sekarang.” Ujarku dalam hati.

Juni 2018

Setelah lebaran, aku dapat kabar pagi-pagi dari istriku kalau ternyata dia HAMIL. What???? Aku seneng banget dong. Akhirnya bisa punya Heru Junior.

Sejak saat itu, hidupku mendadak berubah 180 Derajat. Hampir setiap hari aku pengen banget menyapa calon anakku di perut istriku.

–o0o–

Karena bulan Mei masih PUASA, keluarga memutuskan untuk membuat Pesta Pernikahan setelah Lebaran yang tepat di bulan Juni Akhir.

Tanggal 27 Juni 2018 kamipun mengadakan pesta pernikahan. Semua keluarga besarku yang dari jauh bahkan Malaysia sekalipun turut hadir meramaikan kebahagiaanku.

Aku cukup sendu di hari itu. Ada begitu banyak yang ingin melihatku menikah. Karena, aku hanya 2 bersaudara dan aku anak terakhir. Banyak tamu yang dari Keluarga besar hadir meskipun ia tidak diundang.

Ya, tujuanku sih gak mau terlalu merepotkan keluarga untuk acara syukuran ini.

Kebahagiaan ini cukup lengkap dan penuh dengan cucuran air mata dari beberapa keluarga jauh yang akhirnya bisa menyaksikan aku berbahagia.

–o0o–

Setelah semua acara selesai, Kakekku yang sedang dalam keadaan sakit dibawa kembali dari rumahnya ke rumahku lagi. Karena, takutnya Kakek terganggu ributnya suara musik dan banyaknya asap di mana-mana.

Maklum, di kampung semuanya dikerjakan gotong royong.

Tepat jam 3.30 pagi. Aku dipanggil oleh Ibuku sendiri. Diminta untuk keluar dari kamar. Aku yang masih dalam keadaan capek, mendadak duduk dan langsung melihat keluar kamar.

Tenda pelaminan di luar masih menyala. Aku masih bingung ada apa.

Akupun mencari sumber suara ibu dan aku sudah melihat Kakek dalam keadaan meninggal. “Heru, mbah meninggal.”

Lidahku kelu. Mulutku kebas dan matakupun menetes. Aku mendekati Kakek dan mendoakan kepergiannya.

ALLAH bener-bener sedang mengujiku hari ini. Aku masih sangat jelas mendengar ucapan Kakek 1 minggu sebelum ia meninggal kepadaku “Heru, nanti kalau kamu Jemuk. Mbah mau silat Penganten buat kamu.” Padahal, Kakek saat itu berjalan sudah menggunakan  kursi roda bahkan berdiripun ia harus dibantu.

Aku yang tidak tau ini adalah tanda. Hanya menertawakan beliau. Tapi, suara itu masih sangat jelas sampai hari aku menuliskan cerita ini.

Masih begitu jelas. Setelah Pesta, bahkan Plaminan belum sempet dibuka, sudah ada bendera putih dan ada beberapa ucapan : Telah Meninggal.

ALLAH memang Adil. Sangat Adil. Menjemput Kakekku setelah aku selesai berbahagia di hari itu.

Desember 2018

Melalui hari-hari tanpa Kakek yang sebelumnya ada di rumah, sekarang sudah tiada. Aku yang masih tak habis pikir ini, hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kakek.

Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya aku sampai di detik yang cukup menegangkan. Takut, bingung, resah, tidak tau harus bagaimana, semuanya campur aduk.

Menurut prediksi, istriku akan melahirkan di bulan Februari 2019 ini. Lagi-lagi ALLAH membuat takdir lain.

Pada usia 7 bulan kandungan, istriku tiba-tiba merasakan sakit perut yang hebat. Aku yang baru pertamakali punya istri dan melihat ia dalam keadaan seperti itu. Hanya bisa memijat apa yang bisa membuat ia lebih baik.

Sakitnya sudah dimulai sejak jam 3.00 dini hari. Sampai jam 7.00 pagi, akupun membawa istriku ke Puskesmas yang tidak jauh dari rumah.

Sampai di Puskesmas, aku mengurus berkas dan ya. Istriku masih tidak ditangai oleh bidan atau siapapun. Saat aku menyiapkan berkas, salah satu perawat mengatakan “Bidannya sedang keluar mencari sarapan.”

Aku yang melihat istri dalam kesakitan hanya bisa berdoa semoga istri dan anak yang dikandungnya baik-baik saja.

Sejak jam 07.00 pagi sampai jam 09.00 pagi akupun mulai emosi. “Masih lama lagi sarapannya bu?” Tanyaku nada marah. Masalahnya ini adalah urusan nyawa 2 orang.

Bidannya pun akhirnya sambil jalan lelet masuk dan memeriksa kandungan istirku. Alhamdulillah dalam keadaan baik-baik saja.

Lalu, jam 10.00 bidannya masuk lagi dan memberi obat 1 butir yang KATANYA itu dapat menahan rasa sakit tapi NYATANYA itu obat untuk menguatkan rahim supaya istriku tidak lahir prematur.

Akupun tau obat itu funsinya seperti itu setelah kejadian ini selesai.

Jam 11.00, istriku masih juga belum membaik. Menurutku. Karena, sakitnya masih hilang timbul. Sudah bolak-balik ke kamar mandi. Aku yang baru pertama jadi calon bapak ini, tentu makin resah melihat kondisi istriku.

Berhubung tidak ada perubahan yang signifikan, aku meminta kembali Bidannya untuk mengecek keadaan istriku. Iapun langsung masuk ke ruang perawatan.

Setelah dicek, istriku diminta untuk dipindah ke ruang Persalinan.

Yak. Aku tambah panik. “INI ADA APA YA ALLAH!!!”

Akupun membimbing istri untuk duduk di kursi tempat melahirkan. Ada begitu banyak alat canggih yang akan membantu proses bersalin.

Bidannya datang lagi “Ini sudah bukaan 2 dengan gari bla bla bla” Kata bidannya dengan bidan yang lebih Senior di Puskesmas itu. Aku yang nggak ngerti apa maksudnya.

Cuman yang aku inget BUKAAN 2. “Ini apanya yang kebuka???” Kataku dalam hati

Tak lama, bindan meminta aku untuk merujuk ke RS Bengkalis. “Lho, ini ada apa bu? Kenapa harus dibawa ke Bengkalis?”

“Iya pak, supaya bisa mempertahankan kandungan istri bapak.” Katanya bidan itu

Aku yang pengennya istriku baik-baik saja, langsung dengan sigap menyiapkan semua keperluan yang dibantu Ibu dari istiku dan Ibuku sendiri.

Tepat jam 11.30 istiku dimasukkan ke Ambulance dan kamipun berangkat ke RS Bengkalis yang membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

Selama di perjalanan, Supir sempat hampir nabrak pengguna motor yang nggak jelas. Goyang sana sini naik motornya. Tapi, tidak terjadi apa-apa.

12.05 Aku, Ibu dari Istriku dan 1 Bidan sampai di RS Bengkalis. Istriku diturunkan dan langsung masuk ke ruangan IGD bagian PERSALINAN.

Ya, lagi-lagi aku masih panik nggak jelas. Diminta untuk mendaftar, bolak-balik dari lantai 1, 2, 1, 2, 2, 1 sampe kakiku kebas plus saat itu aku dalam keadaan sakit GIGI. LENGKAP DERITA INI JUMINTEN…

Setelah proses yang panjang. Serius! Bagiku, ini panjang banget. :’(

13.00 Anak Laki-Laki pertamaku lahir di Dunia ini dengan berat 1,4 kg dan panjang 34 cm kemudian dilahirkan pada usia kandungan 7 bulan.

Aku bahagia banget, kulit halus dan tangisnya anakku menjadi bahagia yang tak bisa terucap. Bersyukur kepada ALLAH yang telah menitipkan amanah besar ini di keluarga kecilku.

Setelah semua urusan Administrasi dan perkara urusan istri yang harus diselesaikan setelah melahirkan. Kemudian, anakku dibawa ke ruang NICU untuk diberikan bantuan pernapasan menjelang napasnya normal kembali.

Bahagia ini selalu menghiasi keluarga kecilku.

—o0o—

7 hari berlalu. Anakku masih belum juga memperlihatkan perkembangan. Selama 1 minggu berlalu, memang ia masih sering nangis ketika capek, mungkin. Dan yang paling sering aku lihat ketika ia sedang pipis dan diganti popoknya.

Memang, di hari ketiga setelah anakku lahir, aku diminta bertemu dengan dokter kandungan yang mengawasi perkembangan anakku.

Hasilnya, dokter menyampaikan hal yang membuatku remuk. “Bapak Heru, kondisi anak bapak sudah selama 3 hari ini masih belum ada perkembangan, saya sarankan untuk dironsen supaya tau apa yang terjadi.”

Aku cuman bilang “Baik, bu.”

Hari keempat, anakku dirongsen pas waktu pagi hari. Lalu, siangnya aku diminta bertemu dengan dokter kembali untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh anakku, kenapa ia masih belum ada perkembangan.

Jam 11.30 aku masuk ke ruangan dokter itu, lalu ia mempersilakanku masuk dan duduk.

“Begini bapak Heru. Ini memang berat untuk saya katakan. Tapi, bapak juga harus tau.”

“Memangnya ada apa bu?” Jawabku kaget

“Begini, anak bapak ini ternyata memiliki kelainan jantung. Faktor utamanya memang banyak, tapi salah satunya adalah lahir Prematur.”

Sambil tersenyum, ia melanjutkan “Bapak jangan takut dulu, kita coba rujuk anak bapak ke Pekanbaru, ya pak. Soalnya, cuman di sana yang ada alat yang lebih lengkap untuk membantu perkembangan anak bapak.”

Lagi-lagi dengan wajah tertunduk, aku hanya bicara “Baik bu.”

—o0o—

Memasuki hari keenam, RS di Pekanbaru belum ada satupun yang ruang NICU (Ruangan Khusus untuk Merawat Bayi) kosong. Semuanya penuh.

Aku, yang masih saja penuh tanda tanya ini, merasa begitu banyakkah dosa yang pernah aku lakukan, sehingga anakku harus merasakan akibat ini. Sulit memang, tapi ini harus aku jalani. Capek, letih plus staminakupun bener-bener terkuras sehabis-habisnya. Sampai. makan saja aku sudah tidak ambil pusing. Yang penting anakku sehat, aku udah tenang.

Masih belum kosong, penuh, sulit dihubungi. Segala upaya sudah aku coba usahakan. Tapi, sepertinya ALLAH sedang punya rencana lain. Ikhtiar terus aku jalani.

Sampailah di hari kedelapan. Jam 07.30 aku ditelepon untuk datang ke RS karena kondisiku lelah, aku harus pulang dulu menguatkan istri yang sudah pulang sejak hari ketiga kemaren.

Akupun berangkat dengan semangat karena sepertinya ada kabar gembira yang akan aku terima. Selama 30 menit dari rumah menuju RS, doapun aku terus panjatkan.

Setelah masuk ke ruang NICU. Perawatnya sembari menenangkan, ia menyampaikan maksud memintaku datang ke RS pagi ini.

“Pak, kondisi anak bapak sepertinya masih belum ada perkembangan. Kemaren sudah mengeluarkan darah hitam dan segar dari mulutnya. Makanya, kami meminta bapak ke sini untuk menandatangani pernyataan bahwa bapak bersedia anak bapak dipasangkan alat terakhir yang semoga dapat membantu ia menjadi sehat kembali, ya pak.”

Andai boleh jujur, mendengar ini kepalaku ingin pecah betul rasanya.

Tapi, aku bisa apa? ALLAH sang pemilik kehidupan inilah yang tau aku akan seperti apa. Akupun tak berlama-lama meminta izin keluar menelepon istriku dan keluarga menanyakan persetujuan mereka bagaimana.

Isti, Keluarga sudah setuju dengan apa yang sudah disarankan oleh Dokter. Aku langsung masuk kembali ke ruang NICU dan menandatangani surat itu. Setelah selesai, aku membacakan Surat Ar-Rahman kepada anakku. Ia menangis keras kembali. Ada tangis panjang yang sudah menitik di kedua sisi mataku.

Setelah selesai, aku tidak sanggup rasanya untuk pulang. Ingin pergi jauh entah di mana saja yang penting aku tidak setres dengan semua kenyataan ini.

Anak pertama : Kelainan Jantung di usianya yang baru 7 bulan di kandungan. Aku tetap saja yakin bawah ALLAH pasti akan memberikan yang terbaik.

—o0o—

Jam 00.00, 01.00 dan jam 01.30 ada telepon masuk yang membuat aku kaget. Tidak ada nama. Sampai berkali-kali, jelas ini penting.

Aku kembali menelepon. “Asslamualaikum, maaf kalau boleh tau ini siapa ya?”

“Ini saya bapak Heru. Perawat di ruang NICU. Pak, bisa ke sini sekarang. Ajak istrinya sekalian, ya pak. Anak bapak kondisinya semakin memburuk.”

Mendengar itu, “Ya ALLAH, jika memang anakku ini engkau izinkan berada di dunia ini, mudahkanlah urusannya. Tapi, jika ia lebih engkau sayangi, cabutlah rasa sakitnya.” Ucapku dalam hati.

Bergegas aku membangunkan isti, ayah dan ibuku. Akupun siap-siap, lalu ibu menyarankan meminta tolong antarkan tetangga yang punya Mobil biar istriku saat itu masih dalam keadaan baru selesai bersalin.

Saran itupun aku ikuti. Ibuku membangunkan tetanggaku dan tak lama kamipun berangkat.

Jam 02.30 aku masih di perjalanan, ada telepon masuk lagi. Dari nomor yang sama, perawat di ruang NICU. “Semoga ini baik-baik saja.” Ujarku dalam hati.

“Assalamualaikum, bu.”

“Pak, yang sabar ya pak. Anak bapak telah meninggal dunia.”

Mendadak, lidahku kelu. Seluruh lelah panjang yang aku usahakan. Pagi, siang, malam tanpa ada rasa lelah, hari ini ALLAH memberi jawabannya.

ALLAH lebih sayang anakku bersamanya.

Pikiranku yang sudah buyar ini, semakin hancur ketika istri bertanya “Siapa yang telepon, yah?”

“Orang NICU Nda. Katanya kita diminta cepet.” Jawabku menenangkan istri.

Setelah sampai, aku dan istri langsung menuju ke ruang NICU. Perawat dengan wajah sedih menyampaikan kepada istriku.

“Bu, pak. Anakknya sudah meninggal jam 03.30 tadi.”

Dalam hatiku “Ya  ALLAH nak. Di saat kepergianmupun, Ayah dan Ibu tidak sempat berada di sampingmu, nak.”

Istri yang mendengarpun langsung terduduk dan membanjiri pipinya dengan air mata. Ia sempat mengelus kembali tangan anak kami untuk terakhir kalinya sambil berkata lirih “Nak, Ayah sama Ibu udah datang. Adek jangan tinggalin kami..”

Aku hanya berusaha kuat. Supaya istriku tidak semakin tersayat-sayat hatinya.

Aku mendampinginya keluar dari ruang NICU, ia meminta duduk di lantai saja. Hatinya sudah remuk. Begitu juga aku.

Tapi, aku bisa apa? ALLAH yang tau mana yang terbaik buat keluarga kecil kami.

Tepat, 8 Hari dari Tanggal 8 Desember 2018 ia lahir dan 15 Desember 2018 anakku wafat.

Berat, remuk, tercabik-cabik. Mungkin begitulah gambaran perasaanku saat itu.

Istri aku tinggalkan sendiri di luar, Ayahku datang dan kamipun masuk ke ruangan NICU untuk mengurus anak kami supaya bisa dibawa pulang segera.

Jam 04.58 aku sampai di rumah. Ada puluhan tangis yang sudah aku dengar dari luar. Termasuk juga ibu dan kakak kandungku, ada tangis hebat yang sejatinya untuk menguatkanku saat itu.

Aku masih kuat, belum ada tumpah air mata ini.

“Heru harus kuat!!! Biar Ira (Istriku) tidak semakin sedih.” Ujar kakakku

Aku hanya membalas singkat “Iya.”

—o0o—

Keesokan harinya, aku membacakan Surat Ya-Sin untuk dikirimkan ke anakku. Iya, ada tangis hebat yang aku rasakan selama membaca ayat per ayat.

Aku hanya manusia biasa. Aku juga bisa lemah. Dan mungkin ini waktuku datang. Istriku yang melihat wajahku yang sudah bermandikan air mata, ia hanya diam. Lalu, setelah selesai membaca Surat tersebut, istriku memelukku erat.

Ia membisikkan kata yang tambah membuatku hancur “Maaf ya Yah, belum bisa jagain adek.”

—o0o—

Aku masih berat rasanya mau melanjutkan ceritaku di tahun lalu, 2018. Tapi, ini sudah ganti Tahun. Aku juga tidak mau terlalu berlarut, karena semua sudah ada Takdirnya masing-masing.

Bicara mati itu, menegangkan. Tapi, begitulah adanya.

Makanya, sampai sekarang aku masih berpikir “Kenapa harus ada tahun 2018?”

Ya. Walau aku sudah benar-benar terpuruk dengan begitu banyak luka di hati ini, sampai akhirnya aku bener-bener memutuskan untuk males mengurusi dunia mayaku.

Semenjak beberapa sosial media makin banyak hal gak pentingnya, aku jadi males banget untuk seperti dulu. Up to date.

Meskipun Januari tahun 2019 sudah berjalan hampir selesai, harapan besarku di tahun ini adalah dapat menjadi pribadi yang terus bersyukur dengan apa yang telah ALLAH gariskan buatku sampai detik ini.

Btw, terimakasih 2018. Kamu tahun yang hebat mengotak-atik hidupku.

2018

Begitulah hidup. Tidak ada yang tau rencana apa yang sudah Tuhan siapkan buat kita. Bisa saja pagi ini kita bahagia. Lalu, besok kita dilanda duka. Tetaplah bersyukur. – Heru Arya

Pangeran Wortel pamit, See you…

7 thoughts on “Kenapa harus ada tahun 2018 ?

  1. Ya Allah Her aku bacanya ikutan sediiiih banget. Tapi itulah kehidupan ya Her.. Semoga Heru dan Ira tetap tegar dan Semangat.. 2018 me bawa begitu banyak berkah dan ujian untuk kita semua, termasuk kamu. Semoga dri tiap tiap ujian kita bisa semakin kuat dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Sekarang sudah 2019, SEMANGAAATTT!!

  2. Iya, gue terasa bgt. Setelah gue abis baca tulisan ini, gue langsung balik ke igmu dan perhatiin timeline antar tiap foto. Ada jarak yg cukup jauh di tanggal 12 November sampai 1 Januari 2019. Spasi yg cukup lama loh itu. Biasanya postingan lu bakal muncul dgn jokes” murahannya, tapi kali ini gue bertanya-tanya “Ini orang kemana?”

    Pedih bgt rasanya Her, kehilangan orangtua dan anak sendiri yg baru lahir dalam jangka waktu yg berdekatan. Bulan desember yg harusnya jadi bulan penuh kebahagiaan bagi Umat Kristiani (dan berharap semua umat agama lainnya kecipratan rasa bahagia dan damai), bagi lu malah jadi tahun yg pedih bgt, sampai-sampai lu mempertanyakan eksistensi 2018 itu sendiri.

    Tapi gue turut berduka cita ya Her. Untuk menerima sesuatu yang baru dalam hidup, kamu harus kehilangan bagian dirimu yang lama. (entah kalimat ini berkaitan atau tidak, cocok cocokkan saja) dan ingat Her, Tuhan itu gak pernah ngasih cobaan yang lebih berat dari yg bisa ditanggung hambanya. Ingat saja itu Her, sembari kembangkan lagi semangat optimisme di tahun 2019. No pain, no gain. Semangat Heru!

  3. Masya Allah her…
    Sedih bgt aku mbacanya..
    Apalagi yg bagian kamu bacain surat Ar Rahman…

    Kamu Ayah yg kuat her…
    Keep strong biar istri jg strong..

    Yakin aja sama Janji allah, bahwa anak yg meninggal sebelum ia baligh, akan menjadi tabungan ortu di akhirat.

    Tetap semangat. Salam buat istri, kapan2 ajak meet up blogger pku

  4. Bang Her, yang kuat yaaa.. vina bantu doaa. Semoga ini bentuk rasa sayang Allah buat Bang Heru dan keluarga. Allah menguji berarti Bang Heru bisa lebih kuat dari ini.. semoga apa yang telah diambil diganti dengan yang lebih baik ya.. aamiin. Semoga Bang Heru dan Keluarga ikhlas..

    Buat istri Bang Heru apalagi. Deuhhh! Jadi ikut berkaca-kaca eui.. yang jelas ini ujian yang menguatkan Bang Heru dan Keluarga untuk naik ke level yang lebih tinggi lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *