Tentang Kamu, Dia dan Waktu

Sajak Cinta – Aku ingat. Mungkin ini adalah patah hati pertama setelah kita menikmati buah hasil rasa di masa itu.

Jujur, aku memang tidak dendam. Tapi, rasaku pernah sempet mati dimakan waktu.

—o0o—

Masa itu, meskipun kita seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur. Tak pernah dewasa. Ya, mungkin juga saat itu belum waktunya.

Sampailah ketika senja pergi ditelan malam. Gelap dan sunyinya waktu itupun aku tak pernah lupa.

Masih terlalu sulit untuk membuatku bodoh atau hilang ingatan tentang itu. Yang bisa aku lakukan, hanya seperti menelan duri sekuntum mawar.

—o0o—

Tak lama, ponselmu tiba-tiba berbunyi. Saat itu, kamu sedang meramu secangkir teh hangat supaya aku tak tercabik oleh belati malam.

Aku tau, itu suara pesan masuk dari ponselmu. Lalu, kamu datang membawa kehangatan.

Malam itu, tak hanya secangkir Teh karya tanganmu saja yang hangat. Tapi, tatapmu juga membuatku hangat terjerat.

Aku bicara : “Tadi ponselmu berbunyi. Mungkin ada pesan yang penting.”

Lalu kamu mengambil ponsel itu dan raut wajahmu tiba-tiba berubah..

Sepertinya, itu bukan kabar baik pikirku.

—o0o—

Kamu diam dan membuat waktu semakin lambat.

Aku juga tak mau mengusik tanya dirimu.

Akupun diam.

—o0o—

Detik di menit kedua akhirnya membuatmu mengangkat wajah yang terbakar itu.

Kamu bicara dan memberikan ponsel pengubah wajahmu itu. Akupun mengambil ponsel dan membaca pesan itu.

Ya, rasaku tiba-tiba mati. Kesombongan waktupun tak luput ikut mati.

Isi pesan itu membuat rasaku benar-benar mati. Meskipun hanya malam dan hati kita yang menjadi saksi.

“Maafin, aku. Dia yang memberi jeda itu. Bukan aku. Aku tetap jadi hasil pandangmu dan teman pelukis kisahmu.” Katamu menatap tajam mataku

“Ya, aku tau. Kamu tak perlu salahkan hujan yang deras. Cukup syukuri saja nikmat itu. Maka, sisi lain keadaan itu akan kamu cicipi.” Jawabku terbangun dari rasa yang mati.

—o0o—

Sejak kisah patah hati pertama itu datang, aku jadi yakin, panggung ini benar-benar diciptakan untuk bersandiwara.

Terikat oleh kebodohan rasa, terbunuh tajamnya sepi dan penutup yang tak pernah ada akhirnya.

Mengenalmu adalah hidup yang nyata bagiku.

Bersamamu adalah melukis nyata hidup bahagia.

Walau aku pernah merasakan seperti belati menusuk hatiku, tapi tak seberapa dengan bahagia yang kamu beri.

Terimakasih waktu, sudah membuat DIA mati dalam sendiri.

Selatbaru, 2010.

20 thoughts on “Tentang Kamu, Dia dan Waktu

  1. Tulisanmu Ini.. benar benar membuat orang lain baper yak? Semua jadi ingat kisah sendiri termasuk aku. Ha Ha Ha

    Kisahnya sepertinya berawal dari pesan itu ya.. langsung membuat raut mukanya berubah..

  2. Diksinya keren bang, meski agak bingung cara bacanya biar berirama kayak gimana. Paling suka pada paragraf ke dua, yang bagian ini: “Tapi, rasaku pernah sempet mati dimakan waktu.”~

    1. Dia dalam ceritanya ini adalah orang yang sudah mencoba mengganggu hubungan antara tokoh Aku dan Kamu Gitu…

      Bener tuh. Baca sajak aku itu, dinikmati aja. Jgn bawa perasaan. 😀

  3. Owh ini tulisan lama begitu ya, 7 tahun yang lalu lho Her..hehehe..
    dan masih dengan tulisan tulisan penuh kegalauan yang sering kala mengiris iris hati dan meninggalkan bercak kenangan pahit namun manis hehehehe..
    Okelah Her, semoga sembuh ya..baik sakit terlihat baik sakit tak kasat mata 😀

  4. Pange.. Galau sih tulisannya?
    Walaupun g bisa mencerna secara penuh artinya satu persatu, tapi rasa-rasa ada luka mendalam di tulisan ini. Apalagi luka hatinya seperti baru sembuh dalam jangka waktu yang lama banget. Untung yang melukai hati masih pisau, belum golok, clurit, linggis.. hehehe.. canda pange

    1. Kenapa pit? Lagi seneng nulis sajak. Jadi, kalo maknanya gak dapet, kesannya jadi galau bgt, pit.

      hahahaha… Kadang, orang baca sajak bahagia aja, karena alunan katanya berliku-liku, bisa jadi baper juga…

      Yoi… Baru sembuh, luka lagi, sembuh, luka lagi… Gitu terus pit..

      Eh, btw santiaja pit. Gak pake kekerasan juga. 😀

  5. Bikin baper baca ini pagi-pagi, ditambah kalo bacanya sambil dibayangin, hahaha. Kisah patah hati pertama emang ga gampang buat dilupain, apalagi patah hatinya gara-gara Dia.

    1. Harusnya bacanya nunggu siang aja Dio… Biar gak dibayang-bayangin.. hahahaha.

      Yoi… Kalo patah hati kedua gampang banget, ya. Kalo pertama ini, rada padat materi patah hatinya. Mgkn kesan pertama sakit itu, sulit dilupakan.

  6. Ini tulisan tahun 2010 beneran, Her? Wah, gila udah lama betul. Waktu itu gue boro-boro nulis, paling update status galau di Pesbuk. Tapi norak, nggak cocok dibaca. Wahaha.

    Mantaplah diksinya. Cukup bikin perih. Jarang-jarang gue baca tulisan lu yang begini. Semacam sisi lain dari diri lu gitu, ya?

    1. Iya Yog. Beneran, udah lama aku tulis. Cuman baru sempet aja publishnya. Hahaha, mungkin akunya yang gampang galau waktu itu.

      Iya, sih. Sebenarnya aku lebih seneng nulis sajak gini. Ketimbang daily. Meskipun daily, tetep aja aku tulis pake gaya sajak.

      Biar pembaca tebak-tebak buah manggis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *