Detik Senja

Detik Senja – Lirik lagu yang aku coba baca ini. Membuka ribuan pertanyaan yang menggebu ukir pikir kisah yang telah ditenggelamkan oleh waktu.

Sempat kadang, aku menatapi ukir Tuhan membuat bulan seindah itu. Semakin jauh dipandang, maka semakin indah untuk dilihat.

Tapi semua itu tak bisa membuat ribuan pertanyaanku seperti menjadi jawaban dari hasil keresahan.

Kau malah sering berkata : “Aku ini satu. Lalu, mengapa kau bertanya tentang pikirku padamu.”

Ah. Hati memang seperti teka-teki. Selain penuh tanya, juga penuh jawaban yang tak satupun orang tau, apa yang sedang hati pikirkan.

Hariku seperti bunga mawar dalam gelap. Tinggi, tak berbunga dan akan segera mati. Itulah yang aku rasa dalam benak ini. Mungkin ini terlalu dalam untuk aku yang bukan orang yang bisa menjadi kelopak dalam bunga.

Mungkin, aku juga bukan orang yang bisa menjadi mahkota dalam bunga.

Aku hanya seperti embun. Hadir kala kesepian itu datang.

Namun, akan pergi, setelah pijar sinar kebahagiaan itu hadir.

Hem… Aku tak sanggup begini terus. Tak sanggup mengukir tanya: “Siapa sebenarnya dirimu?”

Tolong. Biarkan detik ini berjalan lebih lama dari pikirku. Harapku bukan seaneh menelan arloji dengan secangkir kopi.

Bukan. Aku hanya ingin seperti bunga dalam gelas air dingin. Indah, mekar, mengukir bentuk dan tak terlupakan.

Hei, aku menyapamu setiap lelap panjangku. Tapi, aku tak pernah mendengar suaramu. Bahkan, aku lebih sering mendengar apa yang sedang kau pikirkan tentang bintang di sana.

–o0o–

Jujur, aku tak lagi ingin bertanya dalam senja. Aku juga terlalu lelah berfikir untuk apakah aku ada, hadir, dan menjadi penyiar gitar dalam pujianmu.

Aku bukan batu dalam ukiran.

Aku juga bukan laut dalam bumi.

Aku ini raut wajahmu. Mengapa kau bingung kala aku berkata itu. Bukankah wajahmu adalah sebagian hasil dari kerinduanku.

Hah, malam terlalu pekat. Secangkir kopipun, tak sanggup menandinginya. Sepertinya, hujan akan kokoh kembali.

Apa kau masih di sana?

Apa kau masih mendengar ujarku yang lama ini?

Aku rasa, tidak lagi. Karena, aku tampak tak terlihat ada dalam bagian dari folder yang kau buat.

Aku seperti berada dekat diantara recycle yang pernah kau bicarakan padaku. Iya, dulu dan sekarang aku berada di situ. Aku hanya bisa diam dan menikmati detik yang pernah kau berikan untukku.

“Terima kasih senja. Untuk 1 detik di masa itu.”

Pekanbaru, 26 Februari 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *